Jumat, 14 Januari 2011

Teknik Pemeliharaan Larva Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi Udang Vannamei
2.1.1 Morfologi
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Vannamei memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang vannamei sudah mengalami modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut.
1. Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam lumpur (burrowing).
2. Menopang insang karena struktur insang udang mirip bulu unggas.
3. Organ sensor, seperti pada antena dan antenula.
a. Kepala (thorax)
Kepala udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxillipied dan lima pasang kaki berjalan (periopoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxillipied sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada chepalothorax yang dihubugka oleh coxa. Bentuk periopoda beruas-ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Di antara coxa dan dactylus, terdapat ruang berturut-turut disebut basis, ischium, merus, carpus, dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies penaeid dalam taksonomi.

2. Perut (abdomen)
Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas (Haliman, R.W dan Adijaya, D.S, 2005). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari gambar 1 berikut ini :





Gambar 1. Morfologi udang vannamei (Haliman, R.W dan Adijaya, D.S 2005)

2.1.2 Klasifikasi
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) klasifikasi udang vannamei (Litopenaeus vannamei) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Sub kingdom : Metazoa
Filum : Artrhopoda
Sub filum : Crustacea
Kelas : Malascostraca
Sub kelas : Eumalacostraca
Super ordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Sub ordo : Dendrobrachiata
Infra ordo : Penaeidea
Super famili : Penaeioidea
Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei

2.1.3 Siklus Hidup
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) udang vannamei bersifat noktural, yaitu melakukan aktifitas pada malam hari. Proses perkawinan ditandai dengan loncatan betina secara tiba-tiba. Pada saat loncatan tersebut, betina mengeluarkan sel-sel telur. Pada saat besamaan, udang jantan mengeluarkan sperma sehingga sel telur dan sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung sekitar 1 menit. Sepasang udang vannamei dapat menghasilkan 100.000-250.000 butir telur yang menghasilkan telur yang berukuran 0,22 mm.
Siklus udang vannamei meliputi stadia naupli, stadia zoea, stadia mysis, dan stadia postlarva.

2.1.4 Perkembangan Stadia larva Udang Vannamei
Stadia larva dalam budidaya udang vannamei adalah sebagai berikut :
a) Stadia Naupli
Udang masih belum memiliki sistem pencernaan sempurna dan masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga udang masih belum membutuhkan makanan dari luar. Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini, larva berukuran 0,32 - 0,58 mm. Sistem pencernaannya belum sempurna dan masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga pada stadia ini larva udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar.
Menurut Elovaara, A.K (2001) fase naupli dimulai dari pengeraman sampai hari ke-2 yaitu N1 sampai N2.
b) Stadia Zoea
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) stadia selanjutnya adalah stadia zoea, stadia ini terjadi setelah naupli ditebar di bak pemeliharaan sekitar 15-24 jam. Larva sudah berukuran 1,05 - 3,30 mm. Pada stadia ini, benih udang mengalami moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2, zoea 3. Lama waktu proses pengantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya (mysis) sekitar 4 - 5 hari. Pada stadia ini udang dapat diberi pakan alami berupa artemia.
Menurut Elovaara, A.K (2001) fase zoea dimulai dari hari ke-2 sampai hari ke-4 yaitu Z1, Z2, Z3.
c) Stadia Mysis
Menurut Haliman RW dan Adijaya D (2005) pada stadia ini, benih sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50 - 4,80 mm. Stadia ini memiliki 3 substadia, yaitu mysis 1, mysis 2, mysis 3 yang berlangsung selama 3 - 4 hari sebelum masuk pada stadia post larva.
Menurut Elovaara, A.K (2001) fase mysis dimulai dari hari ke-5 sampai hari ke-10 yaitu M1, M2, M3.
d) Stadia Post larva
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini benih udang sudah tampak seperti udang dewasa dan sudah mulai bergerak lurus ke depan.
Sedangkan menurut Elovaara, A.K (2001) fase post larva dimulai dari hari ke-11 sampai hari ke-21 yaitu PL1 sampai M2.
Fase larva udang vannamei dapat dilihat dari gambar 2 berikut :









Gambar 2. Fase larva udang vannamei (Elovaara, A.K, 2001)

2.1.5 Tingkah Laku Makan
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005), udang merupakan golongan hewan omnivora atau pemakan segala. Beberapa sumber pakan udang antara lain udang kecil (rebon), fitoplankton, cocepoda, polyhaeta, larva kerang, dan lumut.
Udang vannamei mencari dan mengidentifikasi pakan menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri dari bulu-bulu halus (setae) yang terpusat pada ujung anterior antenula, bagian mulut, capit, antena, dan maxillipied.
Untuk mendekati sumber pakan, udang akan berenang menggunakan kaki jalan yang memiliki capit. Pakan langsung dicapit menggunakan kaki jalan, kemudian dimasukkan ke dalam mulut. Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil masuk ke dalam kerongkongan dan oesophagus. Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan dicerna secara kimiawi terlebih dahulu oleh maxillipied di dalam mulut.
2.1.6 Sifat Udang Vannamei
Dalam usaha pemeliharaan larva udang vannamei, perlu adanya pengetahuan tentang sifat udang vannamei, menurut Haliman, R.W dan Adijayam D.S (2005), beberapa tingkah laku udang vannamei yang perlu kita ketahui antara lain :
a. Aktif pada kondisi gelap (sifat noktunal)
b. Dapat hidup pada kisaran salinitas lebar (euryhaline)
c. Suka memangsa sesama jenis (sifat kanibal)
d. Tipe pemakan lambat, tapi terus-menerus (continuo feeder)
e. Menyukai hidup di dasar (bentik)
f. Mencari makanan lewat organ sensor (chemoreceptor)

2.2 Sarana Pokok dan Penunjang Hatchery
2.2.1 Sarana Pokok
2.2.1.1 Bak pemeliharaan larva
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak pemliharaan adalah bak unuk pemliharan larva. Untuk membangunnya perlu diperhatikan bentuk dan ukurannya.
a. Bentuk
Larva udang tidak memerlukan bentuk bak yang spesifik. Bak dapat berbentuk segi empat, bulat, atau oval. Yang penting sesuai dengan biaya yang tersedia dan agar bentuk pekarangan tetap indah
Bak larva sudut-sudutnya tidak mati, agar sisa-sisa metabolisme, sisa-sisa makanan, larva yang mati, dan kotoran lainnya tidak terkumpul pada bagian ini. Dasar bak memiliki kemiringan 2% kearah pembuangan,agar mudah dikeringkan dan dibersikan. Sedang dinding harus licin, agar kotoran, jamur atau parasit tidak menempel serta mudah dibersihkan.
b. Ukuran
Baik bak yang berukuran besar maupun yang kecil keduanya sama baiknya. Karena keduanya dapat digunakan untuk menghasilkan postlarva (PL) jual. Namun, dari kedua ukuran itu ada keuntungan dan kerugiannya. Bak besa akan menciptakan kondisi air media yang stabil seperti suhu dan salinitasnya, tetapi sering mendapat serangan penyakit.
Dengan demikian ukuran yang ideal adalah yang kapasitasnya 10-20 ton; tingginya 1,2-1,5 m; panjang dan lebarnya masing-masing 4 m dan 2,5 m.
2.2.1.2 Bak kultur pakan alami
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak kultur pakan alami dapat dibuat dari kayu yang dilapisi plastik atau semen. Ukuran bak yang baik 10% dari ukuran kapasitas bak pemeliharaan, yaitu panjangnya 2 m; lebar 2 m; tinggi 0,6 m. Bak sebesar itu sudah cukup untuk memenuhi satu siklus pemeliharaan pada bak pemeliharaan yang berkapasitas 10 ton.
2.2.1.3 Instalasi Sistem Aerasi
Oksigen terlarut (DO) merupakan faktor pembatas bagi sebagian besar organisme aquatik, menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bahwa oksigen yang terlarut saling berkaitan dengan parameter-parameter kualitas air lainya, oleh karena itu kandungan okigen harus stabil. Untuk menjaga kestabilan oksigen terlarut di air media, maka perlu alat yang menyuplai oksigen. Kalau hanya mengandalkan difusi dan fotosintesis Skletonema costotum akan kurang mencukupi. Alat yang biasa di digunakan adaah blower yang dilengkapi dengan slang, batu aerasi, dan kran pengatur udara.
2.2.1.4 Tenaga Listrik
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) tanpa energi listrik, kegiatan operasional tidak dapat berjalan sesui rencana. Energi listrik digunakan sebagai penggerak blower, pompa celup, dan penerangan karenanya tenaga listrik disalur selama 24 jam. Sumber energi listrik diperoleh dari mesin genset atau PLN. Namun yang baik didatangkan dari PLN bila ditinjau dari tegangannya maupun kebersihannya. Jika digunakan genset akan muncul asap sisa pembakaran dan tumpahan solar yang akan mengganggu kehidupan larva.
2.4.1.5 Sarana Pengadaan Air Laut
1. Pompa air
Pompa air digunakan untuk pengambilan air baik untuk pengambilan air laut maupun untuk mengalirkan air dari bak penampungan air laut ke bak pengendapan, kemudian dari bak pengendapan ke ruang Ozonisasi yang kemudian dialirkan ke tandon, dan yang terakhir dari tandon ke bak pemeliharaan.
2. Bak penampungan air laut
Bak penampungan ini terdiri dari berbagai bak yang menggunakan sistem gravitasi. Bak yang digunakan diantaranya adalah bak batu, dan bak ijuk, arang, pasir.
3. Bak Pengendapan
Bak ini digunakan untuk mengendapakan partikel yang lolos dari proses filter pressure.

4. Tandon
Bak yang digunakan untuk menampung air setelah dilakukan beberapa threatment, dimana air tersebut dipakai untuk persediaan. Tandon yang ada terdiri dari 2 tandon, hal tersebut dikarenakan agar pergantian air dapat berlangsung setiap hari, karena untuk mengisi penuh 1 tandon dibutuhkan waktu 1 hari.
5. Bak penampungan 1
Air dari hasil budidaya dialirkan ke bak penampungan ini dan selanjutnya diproses oleh protein skimmer.
6. Bak penampungan 2
Bak penampungan ini digunakan untuk menampung air yang telah diproses (BBAP Situbondo, 2006).

2.3.2 Sarana Penunjang
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) yang merupakan sarana penunjang yaitu saringan, termometer, salinometer, pompa celup, ember, wadah penetasan Artemia sp.
2.4 Pemeliharaan Larva Udang Vannamei
Pada pembenihan udang, pemeliharaan larva merupakan aspek terpenting dalam pengoperasian sebuah hatchery. Kegiatan pemeliharaan larva dimulai dari stadium nauplius hingga mencapai stadium post larva (PL) yang dikenal sebagai benih udang atau benur yang sudah menyerupai udang dewasa. Termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan seperti persiapan bak pemeliharaan, penebaran nauplius, penyediaan dan pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, pengendalian penyakit dan proses pemanenan (Heryadi D dan Sutadi 1993).

2.4.1 Persiapan Bak
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) persiapan bak meliputi :
a. Sanitsi Bak
Bak pemeliharaan yang akan digunakan harus disucihamakan sehingga bebas dari penyakit. Caranya, bak dikeringkan (dijemur), kemudian dasar dan dinding bak disikat. Agar lebih steril gunakan zat-zat kimia seperti klorin dengan dosis 100 ppm, KMnO4 (kalium permanganat) 10 ppm, dan formalin 50 ppm.

b. Perlakuan air media
Air media, umumnya dibeli pada penjual khusus yang menyediakan jasa penyaluran air laut. Air laut yang dibutuhkan adalah air yang berkadar garam 29-31 permil, dan bebas bahan pencemar.

1) Sterilisasi tahap I
Sebelum dipakai, air laut diberi perlakuan dengan menggunakan zat-zat kimia agar bebas dari bakteri, protozoa, jamur, dan mikroorganisme lainnya. Setelah air laut ditampung dalam bak ditambahkan kaporit 30 ppm (30 g/m3 air).
Setelah itu tambahkan natrium tiosulfat sebanyak 10-12,5 ppm, kemudian biarkan proses tersebut berlangsung selama 24 jam sambil tetap diaerasi.
Apabila air laut sudah netral kembali, tambahkan EDTA sebanyak 10 ppm (10g/m3), dibiarkan selama 24 jam sambil diaerasi. Langkah berikutnya menyimpan endapan sampai air jernih dan steril. Cara lain yang dapat ditempuh yaitu dengan memindahkan air yang sudah jernih tersebut ke bak lain dengan menggunakan pompa celup.



2) Sterilisasi tahap II
Sterilasasi air laut tahap kedua dilakukan pada saat air sudah dalam kondisi jernih dan dilakukan 2-3 hari sebelum larva ditebar. Pada tahap ini masih digunakan EDTA sebanyak 8 ppm yang dimasukan ke air media. Setelah itu ditambah antibiotic, misalnya Erytromycyn sebanyak 1 ppm (1g/m3). Antibiotik berfungsi untuk menghilangkan bakteri dan protozoa, sedangkan untuk menghilangkan jamur dapat ditambahkan Trefflan sebanyak 0,1 ppm (0,1ml/m3). Dengan demikian zat kimia tersebut diberikan dalam waktu yang sama dengan urutan, EDTA, antibiotik, dan trefflan.

c. Perlakuan terhadap organisme
Walaupun bak dan air media sudah bebas panyakit, justru organisme yang ditebar yang membawa penyakit. Karenanya, organisme yang akan dipelihara sebaiknya diberi perlakuan dahulu sebelum ditebar.
Apabila usahanya dimuai dari telur, maka telur diberi perlakuan dengan meggunakan bahan kimia di antaranya Methelen Blue 1 ppm selama 10 menit atau KMNO4 dengan dosis 3 ppm selama 30 menit. Jika usahanya mulai dari nauplius, maka perlu direndam dengan larutan Trefflan 0,1-0,2 ppm agar nauplius bebas jamur.

d. Memeriksa Aerasi
Sehari sebelum penebaran, aerasi perlu di cek apakah penyebaran gelembung dari batu aerasi sudah rata. Untuk mengetahuinya, hidupkan blower lalu kran udara dibuka. Bila gelembung udara yang dihasikan sama rata berarti aerasinya baik. Aerasi ini juga meningkatkan kandungan oksigen sehingga gas-gas beracun akan menguap keluar.

1.4.2 Penyediaan Telur
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) cara untuk mendapatkan telur udang penaeid :
a. Menyewa Induk
Menyewa induk udang di Jawa Timur sudah lazim dilakukan oleh para pembenih. Harga sewa induk sepasang sekitar Rp 25.000,00. Sistem ini cukup menguntungkan pihak penyewa dan yang menyewa.
Bagi penyewa dengan mengeluarkan biaya sewa masih biasa memperoleh keuntungan, karena sekali berelur bias sebanyak 600.000-700.000 butir/induk. Daya tetas telur (hatching rate) ditingkat pembenihan antara 70-80%
b. Membeli Telur
Membeli telur udang memang menjanjikan keuntungannya dari pada membeli nauplius karena harganya lebih murah. Namun resikonya juga lebih besar, karena daya tetas telur dan kesehatan induknya belum diketahui.

1.4.3 Penebaran Nauplius
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) sebelum naupli ditebar ke dalam bak perlu diperhatikan salinitas, kondisi naupli, dan suhu air media. Ciri naupli yang sehat, gerakannya sangat aktif terutama jika kena sinar. Dan bila terjadi perbedaan suhu dan salinitas, maka dilakukan proses penyesuaian yang dikenal dengan proses aklimatisasi.
Aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara, air media yang di dalam bak dialirkan ke dalam baskom yang berisi naupli dengan menggunakan dengan menggunakan slang plastik yang berdiameter kecil, sehingga aliran airnya hanya sebesar benag jahit.
Untuk penurunan kadar garam sebesar 1 permil diperlukan waktu antara 15-30 menit. Apabila salinitas antara air media pada bak pemeliharaan sudah sama dengan air media pada baskom naupli, maka proses akilmatisasi salinitas dianggap selesai.
Setelah aklimatisasi selesai naupli ditebarkan ke dalam bak pemeliharaan dengan menjungkirkan baskom yang berisi naupli perlahan-lahan. Padat tebar nauplii yang aman berkisar 100-150 ekor/L.

2.4.4 Penyediaan Pakan
Jenis pakan yang diberikan pada larva udang vannamei selama proses pemeliharaan yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang biasa diberian pada larva uadang vannamei yaitu Skeletonema costatum dan Artemia sp. Pakan alami ini sangat dibutuhkan pada stadium akhir napulius (N-6) atau awal stadium zoea. Sedangkan pakan buatan mulai diperlukan ketika larva memasuki stadium zoea. Pakan buatan ini ada yang dijual dalam bentuk kalengan maupun bungkusan.
Dosis pakan yang diberikan pada larva tidak dihitung berdasarkan jumlah populasi larva, tetapi diukur dengan satuan ppm, sebab larva membutuhkan pakan yang tersedia setiap saat. Yang dimaksud dengan ppm adalah gram/ton volume air media yang jika pakan berbentuk tepung, sedangkan yang cair ml/ton. Dosis terebut hanya untuk pakan buatan, sedangkan untuk dosis pakan alami yaitu sel/cc/hari atau individu /ekor larva/hari.
Pemberian pakan dilakukan setiap 4-6 kali/hari dengan selang waktu 4-5 jam. Larva suka makan pada malam hari maka pemberian pakan pada malam hari lebih baik dari pada siang hari, yaitu pukul 05.00, 10.00, 15.00, 20.00 dan pukul 24.00.
Pemberian pakan dilakukan dengan cara dimasukkan kedalam saringan yang kemudian dimaukkan ke dalam ember yang berisi air tawar. Setelah itu saringn diremas-remas sampai pakan yang ada dalam saringan habis, kemudian ditambahkan pakan alami. Pakan yang berada dalam ember yang berisi air tadi langsung ditebar ke dalam bak pemeliharan (Heryadi D dan Sutadi, 1993)

2.4.5 Pengelolaan Kualitas Air
Menurut Elovaara, A.K (2001) temperatur air untuk optimalkan pertumbuhan dan transisi dari satu larva ke larva berikutnya adalah 280C, sedangkan salinitas adalah 26-30 dan pH sekitar 8,0, namun pH 7,8 sampai 8,4 sudah cukup.
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993), dalam pengelolaan kualitas air ada beberapa perlakuan agar air media tetap sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva, diantaranya :
1. Penyimponan
Penyimponan dilakukan agar sisa-sisa pakan buatan maupun sisa-sisa metabolisme larva dapat dikeluarkan sehingga tidak terjadi penumpukan dan pembusukandalam air media.
Penyimponan dapat dilakukan setelah larva mencapai stadium mysis, frekuensinya 2 hari sekali, waktunyasetelah 2 jam pemberian pakan. Cara menyimpon adalah sebagai berikut :
• Blower dimatikan,setelah itu slang yang akan digunakan utuk menyedot air diisi air penuh dan dipasang saringan pada salah satu ujungnya.
• Kemudian slang dimasukkan kedalam bak dan ujungnya yang dilepas tutupnya sehingga air keluar dengan sendirinya.

2. Pengaturan cahaya
Untuk stadium naupli dan zoea, keduaya bersifat plangtonis yang aktif berenang di permukaan air. Bagi kedua stadium ini diusahakan agar suasana bak pemeliharaan gelap dengan cara menutup bak. Apabila larva sudah masuk stadium post larva, bak pemeliharaan lebih sering dibuka dalam upaya penyesuaian lingkungan.
Parameter kualitas air untuk budidaya udang vannamei dapat dilihat dari Tabel 1, berikut :
Tabel 1. Parameter kualitas air untuk budidaya udang vannamei
Parameter Kualitas Air Batasan yang dianjurkan
DO 5,0 – 9,0
Karbondioksida ≥ 20 ppm
pH 7,0 – 8,3
Salinitas 0,5 – 35 ppt
Clorda ≥ 300 ppm
Sodium ≥ 200 ppm
Total Hardness (as CaCO3) ≥ 150 ppm
Calcium Hardness (as CaCO3) ≥ 100 ppm
Magnesium Hardness (as CaCO3) ≥ 50 ppm
Total Alkalinitas (as CaCO3) ≥ 100 ppm
Uninoized Ammonia (NH3) ≤ 0,03 ppm
Nitrit (NO2) ≤ 1 ppm
Nirat( NO3) ≤ 60 ppm
Hidrogen Sulfida (H2S) ≤ 2 ppb
Klorin ≤ 10 ppb
Kadmium ≤ 10 ppb
Kromium ≤ 100 ppb
Kopper ≤ 25 ppb
Lead ≤ 100 ppb
Merkuri ≤ 0,1ppb
Zinc ≤ 100 ppb
Suhu 28 – 32 0 C
Total Iron ≤ 1,0 ppm
Sumber : Elovaara, A.K (2001)
Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) selain pengukuran parameter-parameter tersebut dilakukan pergantian dan penambahan air secara sirkulasi dengan cara melihat air secara visual, bila dipermukaan air telah banyak mengandung gelembung-gelembung busa yang telah menumpuk dan gelembung tersebut tidak dapat pecah kembali ini diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah terjadi banyak perombakan-perombakan gas di dalam air. Pengisian air pada awal penebaran naupli adalah sekitar 30% dari kapasitas wadah, saat stadia zoea ditambah sampai 70%, stadia mysis 80% dan stadia post larva 100%.
Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008), Pergantian air dilakukan setelah mencapai stadia mysis 3 sampai PL 5 berkisar 10-30% dan PL 5 sampai dengan panen 30-50% dari volume wadah yang terisi.

2.4.6 Penerapan Bioscurity
Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008), tindakan pencegahan penyakit dilakukan dengan penerapan biosecurity dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat) sebanyak ±1,5 ppm yang ditempatkan pada awal pintu masuk sebelum memasuki dan akan memasuki ruangan.

2.4.7 Pengendalian Penyakit
Menurut Ghufron M.H Kordik K (2006) penyakit adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada fungsi atau struktur dari alat-alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada dasarnya penyakit yang menyerang udang datangnya melalui tiga faktor yaitu kondisi lingkungan (kualtas air), kondisi inang (Udang) dan jasad organisme/penyakit.
Udang vannamei juga bukan spesies yang tahan terhadap berbagai macam penyakit, oleh karena itu perlu penerapan sitem budidaya terbaik agar kualitas udang yang dihasilkan lebih baik. Sedangkan menurut Elovaara, A.K (2001) penyakit yang menyerang udang vannamei yaitu infectious hypodemal and hematopoietic necrosis virus (IHHNV), Reo-like virus (REO), and Taura Syndrome virus (TSV ).
Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2005), gejala klinis penyakit udang yaitu : bercak putih oleh virus, kematangan cepat 2-3 hari, berenang ke dekat pematang kemudian mati, kepala kuning oleh virus YHV, kerusakan organ limfoid dan insang, serangan MBV mengakibatkan kerdil, penyakit bercak putih dicirikan dengan bagian kepala berukuran kecil.

2.5 Pemanenan
Pemanenan benur dilakukan mulai pada stadia PL10 atau ukuran PL telah mencapai 1 cm dan yang telah memenuhi kriteria-kriteria benur yang siap dipanen. Caranya adalah membuka saluran pembuangan yang telah diberi saringan di dalamnya agar air yang keluar tidak deras dan benur tidak ikut keluar. Sebelum hal tersebut dilakukan terlebih dahulu mengurangi ketinggian air hingga 6-10 cm sehingga benur mudah ditangkap dengan menggunakan serok. Setelah ketinggian air mencapai 5 cm hentikan penyerokan dan buka saringan, sehinga sisa benur akan keluar bersama air tersebut. Langkah berikutnya adaptasi salinitas, penghitungan, dan pengemasan (Heryadi D dan Sutadi 1993).

2.6 Pengangkutan
Menurut Heryadi D dan Sutadi (1993) pengangkutan benur ummnya dilakukan dengan cara tertutup dan terbuka. Pengangkutan cara tertutup disenangi karena pengirimannya dapat dilakukan dengan menggunakan bus, kereta api, pesawat udara, dan kendaraan lainnya. Cara ini membutuhkan es, kantong pastik, tabung oksigen dan kardus Styrofoam.
Kunci keberhasilan dalam pengangkutan cara tertutup adalah suhu dan kepadatan. Dalam pengangkutan diusahakan agar suhu tetap rendah, oleh karena itu setelah plastik diikat, maka bagian luarnya digantungkan plastik berisi es. Untuk daerah tropis suhu yang dianggap aman adalah 18-20 0 C.
Kepadatan yang aman dalam pengankutan cara tertutup yaitu 4.000-6.000 ekor /kantong. Setiap kantong diisi dengan 4 liter air dengan perbandingan oksigen dan air 5:1. Pengangkutan dengan cara ini akan aman jika lama perjalanan maksimum 6 jam.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Pemeliharaan Larva
5.1.1. Persiapan Bak
Bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP Situbondo ini berbentuk bulat dan berkapasitas 10 ton serta memiliki kemiringan 3% ke arah pembuangan. Sebelum digunakan sebagai tempat pemeliharaan larva, bak terlebih dahulu harus dibersihkan dari kotoran yang menempel pada bak tersebut. Bak dibersihkan dengan cara dicuci menggunakan deterjen, seluruh permukaan dinding dan dasar bak digosok dengan menggunakan spon untuk menghilangkan kotoran yang menempel di bak, kemudian dibilas dengan air tawar sampai bersih setelah itu siram dengan larutan kaporit 60% sebanyak 100 ppm ke seluruh permukaan bak yang berfungsi untuk membersihkan bak dari penyakit yang masih tersisa di bak pemeliharaan sebelumnya dan biarkan hingga kering. Apabila bak akan digunaan, maka bak dan perlengkapan lainnya dicuci kembali dengan diterejen.
Setelah persiapan selesai, maka bak sudah siap digunakan untuk pemeliharaan larva. Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 5 ton atau separuh dari kapasitas bak dengan menggunakan filter ukuran 10µ. Tahapan selanjutnya air pada bak di treatmen menggunakan larutan trevlan sebanyak 0,25 ppm yang berfungsi untuk membunuh penyakit yang menempel pada tubuh larva, kemudian aerasi dinyalakan dan disterilisasi selama 1-2 hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993) yang menyatakan bahwa sebelum dipakai, air laut diberi perlakuan dengan menggunakan zat-zat kimia agar bebas dari bakteri, protozoa, jamur, dan mikroorganisme lainnya. Setelah air laut ditampung dalam bak ditambahkan kaporit 30 ppm (30 g/m3 air).

5.1.2. Penebaran Naupli
Naupli yang akan ditebar adalah naupli yang berasal dari hatchery BBAP Situbondo desa Pecaron. Penebaran naupli dilakukan pada malam hari, hal ini dilakukan dengan harapan untuk menghindari fluktuasi suhu yang terlalu tinggi terhadap lingkungan. Naupli yang sudah dihitung kemudian diseser dengan menggunakan saringan, ditempatkan terlebih dahulu kedalam ember kecil yang sudah diberi air laut kemudian naupli dibilas menggunakan formalin sebanyak 1 ml yang bertujuan untuk menghilangkan jamur dan bakteri yang terdapat pada naupli.
Sebelum naupli ditebar kedalam bak pemeliharaan larva perlu dilakukan aklimatisasi suhu dan salinitas, hal ini bertujuan agar naupli yang ditebar tidak mengalami stress. Aklimatisasi dilakukan dengan cara meletakkan ember yang berisi naupli di atas permukaan air pada bak pemeliharaan larva, kemudian bak tersebut dialiri air sampai penuh dengan menggunakan slang kecil dan biarkan naupli keluar dengan sendirinya dari baskom supaya tidak stress, hal ini sesuai dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993), yang menjelaskan bahwa aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara, air media yang di dalam bak dialirkan ke dalam baskom yang berisi naupli dengan menggunakan slang plastik yang berdiameter kecil, sehingga aliran airnya hanya sebesar benang jahit.
Proses aklimatisasi selesai ditandai dengan mengumpulnya naupli kepermukaan air dalam bak pemeliharaan. Setelah penebaran dilakukan, bak pemeliharaan ditutup dengan plastik transparan tembus cahaya agar suhu tetap stabil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5, dan Gambar 6 serta padat penebarannya dapat dilihat pada Tabel 2 :













Tabel 2: Padat Penebaran Naupli


Bak Populasi
( ekor ) Volume Air
( ton ) Padat Penebaran
( ekor/liter )
A1 1.500.000 10 150
A2 1.500.000 10 150
A3 1.500.000 10 150
A4 1.500.000 10 150
Sumber: IPU Glung BBAP Situbondo (2009)

Dari proses aklimatisasai yang dilakukan maka naupli tidak mengalami stress pada saat ditebar. Sedangkan dari tabel diatas diketahui bahwa rata-rata kepadatan penebaran naupli adalah 150 ekor/liter, hal ini sesuai dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993) bahwa padat tebar nauplii yang aman berkisar 100-150 ekor/L.

5.2. Pengelolaan dan Pengamatan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air pada saat masa pemeliharaan larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP Situbondo dilakukan dengan cara pengukuran kualitas air dan pergantian air (water exchange). Hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa selain pengukuran parameter-parameter tersebut dilakukan pergantian dan penambahan air secara sirkulasi dengan cara melihat air secara visual, bila dipermukaan air telah banyak mengandung gelembung-gelembung busa yang telah menumpuk dan gelembung tersebut tidak dapat pecah kembali ini diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah terjadi banyak perombakan-perombakan gas di dalam air.
Pengelolaan kualitas air dimaksudkan untuk meningkatkan atau menjaga kualitas air supaya tetap dalam keadaan yang sesuai bagi pertumbuhan udang. Pergantian air ini dilakukan pada saat memasuki stadia mysis 3 berkisar 10-30%, hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa pergantian air dilakukan setelah mencapai stadia mysis 3 sampai PL 5 berkisar 10-30% dan PL 5 sampai dengan panen 30-50% dari volume wadah yang terisi. Hal ini dilakukan berdasarkan pengamatan jika warna air sudah tampak keruh dan banyak terdapat busa. Pergantian air ini dimaksudkan untuk mengurangi kandungan bahan organik sehingga tidak menimbulkan penyakit pada larva. Pergantian air ini dilakukan dengan cara mengurangi volume air sedikit demi sedikit melalui pipa pembuangan.
Selain itu dilakukan monitoring kualitas air yang dilakukan setiap hari yaitu pada pagi hari, parameter air yang dilakukan secara rutin adalah sebagai berikut :

a. Suhu
Suhu merupakan salah satu parameter fisika pada kualitas air. Pengukuran suhu pada bak larva ini dilakukan dengan alat termometer yang telah terpasang pada tali diantara aerasi. Pengukuran suhu air dilakukan setiap hari pada waktu pagi secara rutin dengan tujuan agar selama pemeliharaan larva proses metabolisme dan metamorfosis larva lancar. Suhu pada pemeliharaan larva berada pada kisaran 30°C – 33°C. Suhu pada kisaran ini merupakan suhu yang cukup optimal bagi pertumbuhan larva udang vannamei. Hal ini sesuai dengan pendapat Haliman dan Adijaya (2003), suhu optimal pertumbuhan udang antara 26-32°C. Suhu berpengaruh langsung pada metabolisme udang, pada suhu tinggi metabolisme udang dipacu, sedangkan pada suhu yang lebih rendah proses metabolisme diperlambat. Bila keadaan seperti ini berlangsung lama, maka akan mengganggu kesehatan udang karena secara tidak langsung suhu air yang tinggi menyebabkan oksigen dalam air menguap, akibatnya larva udang akan kekurangan oksigen. Dalam pemeliharaan larva, suhu air dipertahankan dengan cara menutup bak dengan menggunakan plastik agar suhu air dapat terjaga pada kondisi yang sesuai bagi pertumbuhan udang.

b. Derajat Keasaman (pH / potential of hydrogen)
Pengukuran pH di IPU Gelung Balai Budidaya Air Payau Situbondo ini menggunakan alat pH meter. Pengukuran ini dilakukan dengan cara mengambil sampel pada bak larva dan diukur di laboratorium. Pengukuran pH ini dilakukan pada waktu pergantian stadia saat pergantian air karena kondisi bak yang berada dalam ruangan (hatchery), pH pada bak larva cenderung stabil yaitu berada pada kisaran 8,0 ─ 8,5. Hal ini sesuai dengan pendapat Elovaraa, A.K (2001) yang menyatakan bahwa pH untuk budidaya udang vannamei adalah sekitar 7,0 ─ 8,5. Nilai pH yang stabil dikarenakan kondisi bak larva berada dalam ruangan tertutup (hatchery) hal ini bertujuan agar udang dapat tumbuh dengan cepat. Selain itu dengan pH yang stabil daharapkan nafsu makan udang tetap tinggi. Apabila nilai pH tidak terjaga dengan baik maka secara tidak langsung akan mengakibatkan penurunan kualitas air. Hal ini juga berpengaruh pada aktifitas udang yang menyebabkan menurunnya tingkat pertumbuhan dan terganggunya metabolisme udang secara perlahan akan menggangu kesehatan udang.

c. Salinitas
Pengukuran salinitas ini dilakukan pada pagi hari saat pergantian air dengan menggunakan refraktometer. Hal ini bertujuan agar salinitas air yang baru tidak telalu jauh dengan salinitas air yang lama. Salinitas yang terdapat pada bak larva cenderung stabil pada kisaran 30 – 34 ppt. Kestabilan salinitas ini diharapkan udang dapat tumbuh dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Elovaraa, A.K (2001) menyatakan bahwa salinitas berada pada kisaran 0,5 – 35 ppt. Hal ini mengakibatkan energi lebih banyak terserap untuk proses osmoregulasi dibandingkan untuk pertumbuhan.

d. Alkalinitas
Pengujian alkalinitas (CaCO3) ini dilakukan pada waktu pergantian stadia saat pergantian air secara titrimetri. alkalinitas berada pada kisaran 100-120 ppm. Pada kisaran ini kandungan alkalinitas yang terdapat pada bak pemeliharaan masih dalam keadaan normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Elovaraa, A.K (2001) bahwa alkalinitas yang optimal bagi udang vannamei adalah lebih besar dari pada 100 ppm. Selain itu dua fungsi penting alkalinitas, yaitu sebagai sumber karbon untuk fotosintesis dan sebagai sistem penyangga (buffer) perubahan pH. Alkalinitas ini jika terlalu tinggi akan menyebabkan udang mengalami kekerasan kulit sehingga dalam pertumbuhannya sulit dan jika melakukan moulting akan berlangsung lama sehingga udang akan menguras tenaga lebih banyak.

e. Bahan Organik (BO)
Bahan organik merupakan salah satu parameter kimia pada kualitas air yang perlu diuji. Penggunaan pakan pada pemeliharaan larva secara berlebihan dan hasil ekskresi merupakan beberapa penyebab bahan organik pada bak pemeliharaan meningkat. Pelaksanaan pengujian BO dilakukan setiap pergantian stadia pada saat pergantian air secara titrimetri. Nilai kandungan BO pada bak pemeliharaan berada pada kisaran 70 ─ 110 ppm. Pada kisaran ini kandungan BO pada bak larva masih dalam keadaan aman. Pergantian air merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kandungan bahan organik yang terdapat dalam bak pemeliharaan. Hal ini dilakukan agar kandungan bahan organik tidak berubah menjadi senyawa beracun yang dapat mengakibatkan larva terserang penyakit.
Selama pemeliharaan larva pemantauan kualitas air merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam pemeliharaan larva. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar grafik parameter kualitas air (Lampiran 4).

5.3. Pengelolaan Pakan
Pemberian pakan ini dilakukan untuk memacu pertumbuhan larva udang vannamei, adapun jenis pakan yang diberikan yaitu :
5.3.1. Pakan alami
Jenis pakan alami yang diberikan pada larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP Situbondo yaitu Chaetoceros dan Artemia sp. Pemberian pakan alami fitoplankton Chaetoceros diberikan mulai stadia zoea 1 yaitu dimana larva
sudah mulai kehabisan persediaan kuning telur ( egg yolk ) dan diberikan sampai stadia PL 3. Hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa pemberian Chaetoceros sp dilakukan mulai dari stadia zoea 1 – mysis 3, sedangkan pada stadia naupli belum diberikan pakan dikarenakan pada stadia ini larva udang putih vannamei masih memanfaatkan kuning telur sebagai pensuplai makanan. Pemberian Chaetoceros sp bertujuan untuk meningkatkan anti body yang sangat dibutuhkan oleh larva udang vannamei terutama pada fase-fase transisi seperti dari stadia naupli ke stadia zoea, yang mana pada fase ini sering dikenal dengan istilah zoea syndrome atau zoea lemah, yaitu larva kelihatan lemah dan tubuh kotor yang dapat menyebabkan mortalitas hingga 90%. Selain itu, Chaetoceros sp mampu menekan laju pertumbuhan bakteri Vibrio harveyi selama proses pemeliharaan larva. Kultur Chaetoceros dilakukan dengan 3 cara, yaitu skala laboraturium, skala semi massal (Intermediate) dan skala Massal. Pemberiannya dilakukan dengan cara memompa Chaetocerosla langsung ke bak pemeliharaan dengan slang.
Artemia salina merupakan pakan alami jenis zooplankton yang diberikan pada larva udang mulai dari stadia larva mysis 3 – post larva. Pemberian nauplius artemia dikarenakan banyak mengandung nilai nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh larva udang seiring dengan peningkatan nilai usaha pemeliharaan larva dalam masalah kualitas larva. Di samping itu, nauplius artemia merupakan zooplankton yang bergerak aktif sehingga dapat merangsang dan meningkatkan nafsu makan larva udang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 7 berikut :







Sebelum diberikan, dilakukan dekapsulasi pada cyste artemia menggunakan bahan kimia yaitu klorin 1000 ml dan soda api 500 ml dengan perbandingan 2 : 1. Klorin dapat melarutkan senyawa lipoprotein pada cangkang telur artemia yang banyak mengandung Heamatin yang dapat mempercepat pengikisan cangkang artemia, sedangkan soda api berfungsi untuk melunakkan cangkang. Selama proses dekapsulasi diusahakan suhu tidak lebih dari 40ºC karena dapat menyebabkan artemia terbakar dan mati. Setelah proses dekapsulasi selesai artemia ditetaskan dalam conical tank selama 1 × 24 jam dan diberi aerasi. Artemia yang sudah menetas diberikan dengan cara ditebar keseluruh permukaan air dengan menggunakan gayung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 8 dan Tabel 3 berikut :








Tabel 3: Jenis, Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Alami
Stadia Jenis Pakan Alami Dosis Waktu
Zoea - PL 3 Chetoceros 500 liter/1,5 juta larva 06:00, 16:00
PL1 – PL7 Artemia 56 g/10ton 06:00, 16:00
Sumber: Data Primer (2009)
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pemberian pakan alami (Chetoceros dan Artemia) dilakukan sebayak 2 kali sehari dengan dosis yang berbeda sesuai dengan stadia dan kepadatan larva.



5.3.2. Pakan Buatan
Pakan buatan yang akan diberikan disaring terlebih dahulu dengan menggunakan saringan. Jenis pakan yang digunakan adalah Nosan R1, Nosan R2, Frippak 1 CAR, Frippak 2CD, Epyfeed LHF-1,Epyfeed LHF-2, dan Riall. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 9:







Pakan yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam saringan pakan dan diaduk den sampai merata kemudian diberikan dengan cara ditebar menggunakan gayung. Untuk dosis pemberian pakan buatan dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:

Tabel 4: Jenis, Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Buatan
Stadia Jenis Pakan Buatan Dosis ( ppm ) Waktu
Zoea Epyfeed LHF1, Nosan R1, Frippak 1 CAR 0,7-1 04:00, 06:00, 10:00, 13:00, 16:00, 19:00,
22:00, 01:00
Mysis Epyfeed LHF1-2, Nosan R1-R2, Frippak 1 CAR-2CD 1-1,5 04:00, 06:00, 10:00, 13:00, 16:00, 19:00,
22:00, 01:00
PL1 – PL7 Epyfeed LHF 2, Nosan R2, Frippak 2CD, Riall 1,5 – 3 04:00, 06:00, 10:00, 13:00, 16:00, 19:00,
22:00, 01:00
Sumber: Data Primer 2009
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pemberian pakan buatan dimulai dari stadia zoea sampai PL dan dilakukan sebanyak delapan kali sehari dengan dosis yang berbeda pada setiap stadia. Dengan pemberian pakan ini maka larva udang vannamei dapat mengalami pertumbuhan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 3.
Pemberian pakan buatan bersamaan dengan pemberian probiotik sanolife yang mengandung bakteri Bacillus licheniformis, Bacillus Subtilus, Bacillus Pumilus. Pemberian Bacillus ini untuk menguraikan bahan-bahan organik berupa sisa pakan dan kotoran yang berada di media pemeliharan agar tidak menjadi racun. Pemberian probiotik ini diberikan setiap hari pada saat memasuki stadia zoea sampai post larva. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 10 dan untuk dosis dan waktu pemberian dapat dilihat pada Tabel 5:







Tabel 5: Dosis dan Waktu Pemberian Probiotik
Stadia Dosis (ppm) Waktu
Zoea 1 10:00
Mysis 1,5 10:00
PL1 – PL5 2 10:00

Sumber: Data Primer (2009)
Dari tabel di atas dapat diketahi bawha pemberian probiotik mulai diberikan pada stadia zoea sampai PL dan dilakukan satu kali sehari dengan dosis yang disesuaikan pada setiap stadia larva.

5.4. Pengamatan Pertumbuhan
Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap hari dengan cara mengambil sampel langsung dari bak pemeliharaan dengan menggunakan beaker glass, kemudian diarahkan ke cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva. hal ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan larva, gerakan, dan sisa pakan. Sedangkan pengamatan mikroskopis dengan cara mengambil beberapa ekor larva dan dilakukan pengamatan menggunakan alat mikroskop, pengamatan ini dilakukan untuk melihat dan mengamati morfologi tubuh larva, keadaan parasit, pathogen yang menyebabkan larva terserang penyakit. Dengan mengetahui perkembangan larva maka juga dapat menentukan perubahan stadia, gerakan aktif juga menandakan bahwa larva tersebut baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 11:











Dari hasil pengamatan maka dapat diketahui perkembangan larva dari setiap stadia yaitu:
1). Stadia naupli
Stadia ini memiliki ciri-ciri yaitu badan berbentuk bulat telur, beranggota badan tiga dan masih memiliki cadangan kuning telur hal ini sesuai dengan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005), yang menjelaskan bahwa stadia naupli masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga pada stadia ini larva udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar.
Secara visual stadia naupli terlihat seperti laba-laba kecil dengan gerakan renang tersedat-sedat, lalu berhenti sesaat kemudian melanjutkan renang. Pembagian tubuh atas karapas dan abdomennya belum terlihat jelas dimana naupli 1 badan berbentuk bulat telur dengan tiga pasang anggota tubuh, naupli 2 pada ujung antena pertama terdapat satae yang panjang dan pendek, naupli 3 terdapat dua buah furtcel mulai tampak jelas dengan masing-masing tiga duri, tunas maxillped mulai tampak, naupli 4 masing-masing furtcel mulai tampak jelas terdapat empat buah duri, antena kedua beruas-ruas, naupli 5 tonjolan pada maxilliped suah mulai jelas, naupli 6 perkembangan satae semakin sempurnadan duri pada fortcel tumbuh makin panjang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 12 berikut :










2). Stadia zoea
Stadia naupli akan berubah menjadi stadia zoea setelah ditebar pada bak pemeliharaan sekitar 15-24 jam. Pada stadia ini zoea akan mengalami ganti kulit (moulting) hal ini sesuai dengan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005), yang menjelaskan bahwa pada stadia ini benih udang mengalami moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2, zoea 3. Lama waktu proses pergantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya sekitar 4-5 hari. Secara visual stadia ini memiliki ciri yang khas, yaitu terlihat adanya kotoran yang enempel pada ekor dan berenang maju. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 13 dan untuk perkembangannya dapat dilihat pada Tabel 6:











Tabel 6: Ciri-ciri stadia zoea pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei)

Stadia Ciri-ciri yang menonjol
Zoea 1 Badan pipih dan karapas mulai nyata, mata mulai tampak, alat pencernaan makanan mulai jelas.
Zoea 2 Mata mulai bertangkai dan pada karapas sudah terlihat rostrum.
Zoea 3 Sepasang uropoda mulai berkembang, ruas-ruas perut mulai tumbuh.
Sumber: Data Primer (2009)


3). Stadia Mysis
Pada stadia ini larva sudah hampir menyerupai bentuk udang yang bercirikan sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Ukuran larva berkisar antara 3 – 4,5 mm. Pada stadia ini berlangsung selama 3-4 hari dimulai dari stadia mysis 1-3 sebelum memasuki stadia post larva (PL), gerakannya mundur kebelakang. Hal ini sesuai dengan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini, benih sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50 - 4,80 mm. Stadia ini memiliki 3 substadia, yaitu mysis 1, mysis 2, mysis 3 yang berlangsung selama 3 - 4 hari sebelum masuk pada stadia post larva. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat Gambar 14 dan pada Tabel 7 berikut :


















Tabel 7: Ciri-ciri stadia mysis pada udang vannamei (Litopenaeus
vannamei)

Stadia Ciri-ciri yang menonjol
Mysis 1 Bentuk badan sudah menyerupai udang dewasa
Mysis 2 Tunas kaki renang (pleopoda) mulai tampak nyata tetapi belum beruas-ruas
Mysis 3 Tunas kaki bertambah panjang dan beruas
Sumber: Data Primer (2009)

4). Stadia Post Larva
Pada stadia ini akan tampak jelas seperti udang dewasa. Larva sudah mulai bergerak aktif lurus ke depan serta mempunyai sifat karnivora dimulai dari post larva (PL 1) sampai dengan panen benur. Hal ini sesuai denan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini benih udang sudah tampak seperti udang dewasa dan sudah mulai bergerak lurus ke depan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 15 berikut:









Berdasarkan pengamatan pada tingkat kelangsungan hidup larva udang (Survival Rate/SR) larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP Situbondo didapatkan data seperti pada Tabel 8 di bawah ini :
Tabel 8. Tingkat Kelangsungan Hidup Larva
Stadia Bak Volume Bak (Ton) Jumlah Tebar (ekor/bak) Σ Larva Sampling Estimasi
SR (%)

Naupli 1 A1 10 1.500.000 1.500.000 100
A2 10 1.500.000 1.500.000 100
A3 10 1.500.000 1.500.000 100
A4 10 1.500.000 1.500.000 100
Zoea 2 A1 10 1.500.000 1.425.000 95
A2 10 1.500.000 1.350.000 90
A3 10 1.500.000 1.395.000 93
A4 10 1.500.000 1.350.000 90
Mysis 1 A1 10 1.500.000 1.320.000 88
A2 10 1.500.000 1.275.000 85
A3 10 1.500.000 1.200.000 80
A4 10 1.500.000 1.290.000 86
PL 4 A1 10 1.500.000 1.125.000 75
A2 10 1.500.000 1.050.006 70
A3 10 1.500.000 1.095.000 73
A4 10 1.500.000 1.125.000 75
Sumber : Data Primer (2009)
Dari table di atas diketahui bahwa kepadatan larva pada setiap bak mengalami penurunan hal ini terjadi akibat adanya mortalitas pada larva.

5.5. Penerapan Biosecurity
Penerapan biosecurity dalam kegiatan pemeliharaan larva sangat diperlukan untuk mengurangi resiko penyebaran penyakit dari satu tempat ke tempat lain. Tindakan penceghan dengan penerapan bioscurity dilakukan dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat) sebanyak 1 ppm yang ditempatkan pada awal pintu masuk ruangan, hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa tindakan pencegahan penyakit dilakukan dengan penerapan biosecurity dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat) sebanyak ±1,5 ppm yang ditempatkan pada awal pintu masuk sebelum memasuki dan akan memasuki ruangan.
Dengan penerapan biosecurity ini maka diharapkan dapat meminimalisir bibit penyakit yang masuk ke area pembenihan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 16 berikut :






Gambar 16: Biosekuritas pada IPU Gelung BBAP Situbondo
Sumber: Data Primer (2009)

5.6. Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit pada larva udang vannamei dilakukan dengan prinsip dasar yaitu tindakan pencegahan dan pengobatan. Dengan melakukan pencegahan diharapkan agar larva tidak sampai terserang penyakit yang dapat mengakibatkan mortalitas dan kualitas menurun. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pemberian probiotik. Stadia yang paling rawan dalam pemeliharaan larva yaitu pada saat memasuki stadia zoea, jenis penyakit yang sering mewabah adalah jenis zoothamnium sp dari golongan protozoa, menyerang ketika stadia mysis-1 dengan gejala gerakan lemah, kebanyakan larva berada di atas permukaan air, namun selama praktek tidak ditemukan adanya penyakit pada larva udang. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Elovaara, A.K (2001) yang menyatakan bahwa penyakit yang menyerang udang vannamei yaitu infectious hypodemal and hematopoietic necrosis virus (IHHNV), Reo-like virus (REO), and Taura Syndrome virus (TSV ). Protozoa disebabkan oleh air media dan peralatan yang kurang steril. Kurang sterilnya peralatan dimungkinkan pencucian menggunakan air tawar yang belum ditrietment terlebih dahulu. Tindakan untuk mengurangi populasi protozoa tersebut dengan melakukan pergantian air dan pemberian obat (treflan) sesuai dengan dosis yang dibutuhkan.

5.7. Panen dan Pengangkutan
5.7.1. Panen
Waktu pemanenan dapat dilakukan kapan saja tergantung keinginan pembeli, pada pemeliharaan larva untuk siklus ini pemanenan dilakukan pada malam hari sekitar pukul 21:00. Pemanenan benur dilakukan dengan mengurangi volume air hingga mencapai 50% dari daya tampung bak melalui pipa goyang atau pipa pengeluaran dan pipa saringan bagian dalam, air yang keluar ditampung dengan menggunakan ember saringa yang berukuran 300µ, kemudian benur diseser dan ditampung dalam baskom bersaring, hal ni sesuai dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993), yang menyatakan bahwa caranya adalah membuka saluran pembuangan yang telah diberi saringan di dalamnya agar air yang keluar tidak deras dan benur tidak ikut keluar.
Setelah benur bekurang, pipa saringan bagian dalam dilepas untuk dipanen secara total. Langkah selanjutnya yaitu disaring kembali dengan saringan rangka besi berukuran 50x70 cm, dan airnya dialirkan melalui saluran pembangan serta ditampung dalam ember bersaring. Setelah dipanen, dilakukan sampling dengan menggunaka takaran yang telah diperitungkan kepadatannya. Setelah proses sampling selesai kemudian benur dikemas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 17 berikut :








Gambar 17: Pemanenan dan Penghitungan Benur
Sumber: Data Primer (2009)
5.7.2. Pengangkutan
Pengankutan yang dilakukan di IPU Gelung BBAP Situbondo adalah pengangkutan cara tertutup, yaitu dengan menggunakan kantong plastik yang ditempatkan dalam sterofom kemudian diberi es untuk menurunkan suhu hal ini sesuai dengan pendapat Heryadi D dan Sutadi (1993), yang menyatakan bahwa pengangkutan benur ummnya dilakukan dengan cara tertutup dan terbuka, pengangkutan cara tertutup disenangi karena pengirimannya dapat dilakukan dengan menggunakan bus, kereta api, pesawat udara, dan kendaraan lainnya. Cara ini membutuhkan es, kantong pastik, tabung oksigen dan kardus Styrofoam.
Tujuan dari penurunan suhu yaitu agar selama dalam perjalanan benur tidak aktif. Pengaruh suhu terhadap benur adalah, jika suhu dari air yang ada dalam kantong meningkat maka akan meningkatkan metabolisme dari benur. Dengan meningkatnya metabolisme dari benur maka sisa metabolisme atau ekskresi akan tinggi. Jika hal ini terjadi dalam kurun waktu yang lama maka akan mangakibatkan terjadinya penurunan kualitas air sehingga dapat mempengaruhi benur yang ada dalam media tersebut.
Kepadatan benur dalam kantong disesuaikan dengan permintaan pembeli dan jarak pengiriman benur. Kepadatan benur untuk jarak dekat (lokal) yaitu 1000 ekor/liter. Kemudian diberi oksigen dan diikat kuat dengan menggunakan karet gelang. Perbandingan antara air dan oksigen adalah 1 : 2, hal ini untuk menjaga ketersediaan oksigen selama pengangkutan. Setelah itu kantong plastik dimasukkan ke dalam kotak sterofoam. Pengiriman dilakukan dengan menggunakan alat transportasi darat yaitu mobil pick up ke daerah Situbondo, Banyuwangi, Jember, Gresik, Tuban, Lamongan, Sumenep, Rembang, Yogyakarta dan Purworejo.
Sedangkan prosedur pengangkutan jarak jauh (luar pulau) perlakuanya sama dengan pengiriman jarak dekat, hanya saja kepadatannya ditingkatkan menjadi 4.000 – 8.000 ekor/kantong dan suhu air yang dipakai sebagai media benur tidak sama. Suhu air untuk sistem pengangkutan benur jarak jauh/luar pulau harus lebih rendah yaitu 27oC. Secara langsung keadaan ini berhubungan dengan proses metabolisme serta reaksi kimia dalam tubuh larva udang yang semakin menurun sehingga menyebabkan larva bergerak pasif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 18 berikut :








Gambar 18 : Proses Packing (Data Primer, 2009)
Pengemasan benur untuk konsumen luar pulau dilakukan dengan menggunakan truk yang dilakukan dengan pesawat terbang. Daerah pemasaran luar pulau adalah wilayah Tarakan dan Kalimantan Timur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar